Dalam Perjalanan
Setelah lama berjalan, dari semua liku-liku yang pernah kulalui kembali kujumpai kembali suatu jalan yang jauh lebih melelahkan dari jalan yang pernah ku lalui. Entah karena aku sudah terlalu lama berjalan di jalan mendatar tanpa tikungan tajam dan tanjakan curam, atau aku yang terlalu terlena dengan berkendaraan sendiri. Saat aku hendak melalui jalan ini, dan kini aku mencoba untuk melalui jalan ini tidak sendiri, kudapati jalan ini begitu mendaki, dengan tikungan-tikungan yang teramat tajam, dan aku masih menggunakan kendaraan yang sama. Hmmm, ingin aku berganti kendaraan. Sayangnya, semua kendaraan akan tetap dengan hasil yang sama. ‘Seems like there’s no choices to change the vehicle‘. tak apalah, aku masih bisa menggunakan kendaraan aku yang lama. Meski terkadang aku sejenak berhenti di tengah tanjakan untuk mendinginkan mesinku, sedikit memperbaiki mesin atau memang berhenti karena kehabisan bahan bakar. Sedikit-demi sedikit aku tetap mencoba menapaki jalan ini. Dari setiap tikungan tajam yang aku coba lalui, berkombinasi tanjakan atau lubang atau terkadang adanya penyeberang-penyeberang yang mendadak, kasat mata dan tidak, aku masih tetap berkeras hati untuk menapaki jalan ini.
Disela-sela kesibukan mengemudikan kendaraan ini, selalu kusempatkan untuk menatap pendamping di sampingku. Dia yang menjadi penunjuk arah dan penunjuk keadaan secara umum, karena memang dia sedang memegang peta dari jalan yang harus kulalui. Dan, dia juga yang membuat ku berkeras hati untuk mencapai akhir dari jalan ini. Kala terang dan gelap, kala siang dan malam, kala hujan atau panas, tetap aku berusaha untuk tetap menatap jalan yang harus kulalui. Berkonsentrasi penuh untuk apa yang akan terjadi, berusaha membaca keadaan di depan, dan membuat perencanaan dari setiap prediksi. Tak kupungkiri, memang melelahkan. Meski keadaan sering menjadi pengobat dari kelelahan ini. Dari setiap ruas jalan ini, kudapati keindahan-keindahan kehidupan yang selalu kuinginkan, yang menyejukkan suasana panas, yang membasahi keringya hati. Indah, begitu indah, alam semesta yang kulalui memang alam yang begitu indah. Ketika pohon-pohon menyejukkan dan menaungi kami dari panasnya mentari dan sengatan tuntutan-tuntutan dari jalanan, kami tersenyum, tertawa bersama, berbagi hebahagiaan, dan mensyukurinya.
Tak dipungkiri, dari sekian banyak keindahan, kami pun bertemu dengan ganasnya alam yang memaksa kami menghentikan kendaraan dan berhenti sejenak, bersedih atau menangis. Terkadang kami harus berjalan satu persatu dan yang lainnya menyusul dengan kendaraan yang memang sedang tidak mampu untuk menaiki tanjakan yang begitu terjal. Tapi kami kembali meneruskan perjalanan bersama, walau terkadang perjalanan kami dilanjutkan dengan duka, kesedihan, dan air mata. Dan semua ini mencambuk kami, dia dan aku. Mencambuk setiap sisi kehidupan kami. Semoga cambuk ini bukanlah neraka.
Dan kami menempuh perjalanan ini dalam ketidak nampakan.