celoteh saat hendak mohon diri
mari kita kembali ke titik nol.. dan biarkan lewati masa ke depan pada titik nol. titik teraman yang sebetulnya tidak aman, dan titik termudah yang sebenarnya tidak mudah. namun apa hendak dikata, jalan yang berliku membawaku kembali ke titik awal ini, dan pada akhirnya berusaha untuk menjadikan titik ini sebagai zona aman untuk sementara waktu hingga waktu yang tidak di tentukan.
Terimakasih untuk semua yang telah berada di sekitar saat melewati masa yang telah lalu. tidak pernah berniat untuk menghilangkan semua itu dari benak, bahkan akan ku kumpulkan dalam sebuah album yang akan selalu kujaga dan kurawat. semua akan menjadi kenangan yang indah. i believe that it would be.
Dan perubahan bkanlah harus terjadi seketika, saat batu kemudian berlubang karena tetes demi tetes air yang jatuh menimpanya. aku harus berubah. ya, aku harus. Pilihan-pilihan itu masih berserakan di sekitar, dan aku harus tetap memilih. meski pilihan itu adalah diam dan memilih untuk tidak memilih. mungkin tidak itu saja pilihan yang terdekat, karena bisa saja akumemilih untuk melanjutkan jalan yang pernah aku tapaki. kembali ke luasnya dua dunia. wew….
sudah mendekati waktu dimana sepatu dilepas, dan menghempaskan diri ke tempat tidur…. tapi aku masih di tempat dimana rejekiku diraup. alhamdulillah……
mari.. met malam.. saya pamit..
dan untuk kamu, mari.. saya juga pamit.. maafkan, saya mohon diri….
*sekedar berpamitan, ntuk waktu tak terhingga*