Archive for May, 2008

celoteh saat hendak mohon diri

Friday, May 30th, 2008

mari kita kembali ke titik nol.. dan biarkan lewati masa ke depan pada titik nol. titik teraman yang sebetulnya tidak aman, dan titik termudah yang sebenarnya tidak mudah. namun apa hendak dikata, jalan yang berliku membawaku kembali ke titik awal ini, dan pada akhirnya berusaha untuk menjadikan titik ini sebagai zona aman untuk sementara waktu hingga waktu yang tidak di tentukan.

Terimakasih untuk semua yang telah berada di sekitar saat melewati masa yang telah lalu. tidak pernah berniat untuk menghilangkan semua itu dari benak, bahkan akan ku kumpulkan dalam sebuah album yang akan selalu kujaga dan kurawat. semua akan menjadi kenangan yang indah. i believe that it would be.

Dan perubahan bkanlah harus terjadi seketika, saat batu kemudian berlubang karena tetes demi tetes air yang jatuh menimpanya. aku harus berubah. ya, aku harus. Pilihan-pilihan itu masih berserakan di sekitar, dan aku harus tetap memilih. meski pilihan itu adalah diam dan memilih untuk tidak memilih. mungkin tidak itu saja pilihan yang terdekat, karena bisa saja akumemilih untuk melanjutkan jalan yang pernah aku tapaki. kembali ke luasnya dua dunia. wew….

sudah mendekati waktu dimana sepatu dilepas, dan menghempaskan diri ke tempat tidur…. tapi aku masih di tempat dimana rejekiku diraup. alhamdulillah……

mari.. met malam.. saya pamit..

dan untuk kamu, mari.. saya juga pamit.. maafkan, saya mohon diri….

*sekedar berpamitan, ntuk waktu tak terhingga*

Mind that Reads

Tuesday, May 20th, 2008

hanya sedang ingin menulis sedikit tentang sesuatu…

1. sedang berfikir mengenai ke-’atheis’-an.. wew, please, don’t do that to me…. don’t push my tounge to say it….

2. when thing’s being empty.. then a jug of water comes nearer… should i fill it with the water? damn…!!! I’m not that strong for that….

3. hmm.. it’s not easy to be a ‘nokia’. since traps are everywhere and you might choose a wrong operator… demmmm the competition among the operators are getting harder and harder….

4. trying to take off the clothes that I’ve been wearing for so long…, and be ready to wear another clothes. will i be ready for that….????

5. bunda dan ayah, maafkan aku. I can’t be the boy that you always want. I have my own life to live but still, I never change my list where you n the family is the first in it.

6. keep looking at the stars and the moon in the sky above.. wondering  where my star will be and how will the moon in June look like?

*sambil celingukan liat bayangan diri sendiri di cermin*

UPG, 200508

Sejenak Mohon Pamit

Sunday, May 4th, 2008

Selamat malam untuk kekasih
Dalam hati berada sang putri, masih
Menguatkan kaki, untuk tak tertatih
Menerangi hari dengan cahaya putih

Selalu bersinar cerah bersahaja
menjadi ratu dari seorang raja
Ceriakan relung kelabu kala senja
Tiada berharap yang lain, dirinya saja

Gelapnya malam ini kan memberi mimpi
Yang terindah, yang tiada bertepi
Doa dan senyum selalu menatapi
Membahana, tinggalkan diri yang sepi

Lautan masih tetap menantang
Penghujung langit disana terbentang
Kembali berada di bahtera yang usang
Teriring salam untuk kekasih tersayang

*sejenak ku mohon diri*

Celoteh Malam

Sunday, May 4th, 2008

Tak bisa kuungkap dalam bentuk kata
Hanya bertutur dalam air mata
Hatiku yang terkungkung dan buta
Iman terbelenggu dalam imaji semata

Tuhan selalu ada, ku tau itu pasti
Meski tulang, daging, dan kulit dalam peti
Ruh tak bertubuh bersimbah cemeti
Itulah yang saat ini menjadi arti

Kuhisap dalam toksin untuk pemati
Sesak penat dan sepi diri
Bukan hati yang tidak peduli
Berpikir agar hati segera mati

Jangan lagi kau peduli kami
Entaskan mata dan usi pandangi
Cerita ini bukan demi simpati
Bualan belaka daribocah mati

Kelak indah kan ada slamanya
Tapi bocah tak ungkin ada
Tak juga suara, nada dan kata
Lukisan pun berwarna air mata

Kasih, aku bukan yang tersayang
Dalam gelapmu aku bukanlah bintang
Ketiadaan aku di bawah bayang
lalu gelap membawa menerawang

Bukan untuk dia kami berbicara
Bahkan dia tak pernah bersuara
Bisu, tuli, dan buta baginya yang nyata
Terperosok di satu sudut kota

Bodohnya untuk mendengar hati
Rasa yang mengatur tapi tak mengerti
Kepala dicipta untuk mengendara
Lalu mengapa cacat tetap terpelihara?

Kembali ke saat dunia baru tampak
Bagian Bagian utuh yang berserak
Luka yang terlahir menguap kelak
Orang bodoh dengan bodoh tergelak

Mata air air mata tak lagi mengalir
Harapan hanya asa yang tak bergulir
Aku tak lagi masih menjadi butir
Aku hanya menjadi segelintir