Superstition
Tuesday, April 10th, 2007Superstition
Superstition, hal yang termudah untuk didapat saat menjalin anyaman cerita dalam hidup, bukan saat malam menjelang dan mata meredup, angin dingin yang bertiup bukanlah sebuah tutup dari bejana percobaan agar tidak meletup.
Malam sudah kian larut, jemariku masih berdansa, menari tanpa irama atau ritme yang indah mengikuti huruf-huruf yang tertulis pada lembar-lembar kertas di hadapan sepasang mata yang pandangannya menmbus lapisan bening pembantu dan penyempurna kekurangan pada jendela hati. Bundaran-bundaran hitam terus bergerak, naik turun, mencocokkan tinta-tinta berbentuk dengan simbol-simbol yang terbentuk dari kilatan-kilatan cahaya dalam tabung kaca; maklum, layar pipih yang berisi cairan masih terlalujauh untuk dijangkau isi dompet. Tarian demi tarian telah disajikan hingga nada-nada baru mengusik tarian terakhir. sebelah tanganku bergerak, dari menari menjadi merayap; bukan menjadi rayap saat melantai.Sumber nada yang menghentikan tarian sebelah tanganku menjadi tujuan. ‘Dapat!’ akhirnya membuka mulut. Segera ditariknya keluar, satu tombol dipijit, dan telinga dibuka lebar setelah mata terbelalak, terbuka lebar melihat angka-angka yang muncul di layar kecil yang tergabung dalam bagian dari sumber nada tadi. suara mungil yang dulu selalu menghiasi setiap detik hariku merambat, meniti celah indra pendengaranku hingga tiba di saraf penerimaaa. Data sent to procesor. Sejenak, informasi tadi muncul di benakku. jawaban ringan muncul dari hasil pemrosesan data tadi, hingga terjalin suatu flow data, dari mulai input hingga output untuk beberapa menit.Sebuah tawa ringan yang menyayat hati mengakhiri keseluruhan proses ini sebagai reaksi dari perhatiannya yang mengingatkan aku akan beberapa hal yang harus aku lakukan. The conversation was ended up by my question to myself for the reason why she did that.
"Damn", shouted I. ‘Why should I write my last sentence in English? It opens an identity. Bodohnya aku. Bertindak tanpa memikirkan akibatnya. Itulah, memang, yang biasa terjadi saat emosional meningkat dan kecerdasan menurun. Dalam benak ku tulis, ‘mode mengutuk dan mencaci ON!’
‘Kembali ke laptop…!’ - senyum-. Nampak mengutip, tepatnya meniru, ucapan seorang presenter yang sedang naik daun; di jaman ini, untuk dapat terbang bukanlah karpet yang digunakan, seperti dalam cerita Aladin atau kisah Seribu Satu Malam, akan tetapi daun yang digunakan. Maksudku, jemariku yang kembali menari, mengikuti roda kehidupan. Tak lama tarian ini kubawakan, saat sebuah susunan nada singkat terdengar dari benda yang sebelumnya kutempelkan pada indera pendengaranku. Kini, hanyalah sederetan simbol-simbol yang muncul pada layar mungilnya yang redup, pengganti bunyi yang sebelumnya menyapa indra pendengaran ini. Indera penglihatanku kini melakukan sebuah tugas mulia, membaca, mencoba meproduksi ulang wacana yang baru saja terekam dalam bentuk visual. belum sempat ‘processor‘-ku bereaksi, sebuah reaksi lain telah muncul. Dalam banakku muncul,‘Oh, Gosh…. Not again!’ Bukan aku tak mau mendapatkan barisan simbol-simbol ini terkirim ke alat komunikasiku, tetapi untuk kesekian kalinya hal ini terjadi. Kedua ‘she‘ datang menyapa dalam kurun waktu yanghampir bersamaan; belumlah habis waktu sepeminuman tehku rasanya.
Ini bukanlah malam seribu bulan, namun semua yang ada di sekelilingku serasa berhenti, tiada gerakan, hembusan, getaran, ataupun aliran. Inilah (mungkin) kelumpuhan yang pernah aku baca dari buku yang menceritakan orang-orang Dublin. Perhaps, it’s just a perception od a missunderstand student of the thing helearns. It’s probably me who tries to make a kind of conclusion. I’m not that smart, i think.
beberapa saat kemudian, kira-kira dua atau tiga hembusan asap rokok, reaksi yang seharusnya muncul. Sebuah reaksi dari barisan simbol-simbol tadi telah menimbulkan sekumpulan simbol-simbol yang kongruen dalam susunan yang berbeda terbang dalam aliran-aliran gelombang elektromagnetik untuk berhenti di stasiun terakhir yang ditunjukkan oleh sang server sebagai ‘controller‘ arah. Biarlah kumpulan simbol tadi beraksi di stasiun sana, menebar benih atau memicu keributan, toh tetap akan ada reaksi yang kemudian akan beraksi di stasiunku. Aku tinggal bersiap atas sibol-simbol lain yang akan bersiap di hadapan jendela hati ini.
Kini, aku melanjutkan kelumpuhanku, yang sempat terlupakan; kok, bisa begitu ya? - aku bertanya. Sebuah reaksi lain mencuat, ‘Apa yang terjadi pada diriku?’ Mereka selalu terjadi hampir pada saat bersamaan. Entah pengirim audio natau pengirim visual yang datang lebih awal, namun keduanya mencolekku dalam kisaran waktu yang berdekatan. selalu begitu, berulang kali, membangunkan tanya dan tanya yang sedang tertidur. ‘The audio sender‘ adalah masalalu yang datang dari hari sebelum kemarin, dan ‘the visual sender‘ adalah masa lalu yang datang dari hari kemarin.Haruskah aku mempercayai hal ini, dan tidak mempertanyakan kedatangan hari ini di hari esok atau hari-hari setelah esok, ataukah sesungguhnya tidak ada masa lalu karena saat ini mereka masih disini bersamaku, menunggu esok danhari-hari setelah esok.
Aku disini bukanlah untuk hari esok bersama masa lalu, untuk masa lalu di hari esok, untuk masa lalu yang berlalu, atau hari esok di hari esok. namun, saat tinta terakhirku tertoreh di bidang ini, kenyataan ini telah datang kembali, terjadi untuk kesekian kali. Engkaukah hari esokku, masa laluku?
Bandung, 050407;05:25
in the b(r)atcave
‘Ndro