Kasihan….
Saturday, September 30th, 2006suatu sore yang cerah…. menanti sebuah waktu terindah di hari-hari dalam bulan Ramadhan, azan maghrib tentunya.
sebuah waktu yang selali dinantikan oleh berjuta-juta manusia yang berusaha menjalankan puasa.
dering dari sebuah alat komunikasi menghentakkan aku dari lamunan. cape neh…. dalam kaki eh… dalam hati….. *nampak sekali kadang otaknya ada di denkul ya… wakakakkk….* oh, rupanya dia…
kujawab, dan kubuka dengan ucapan ’salah nikung’ (jawaban standar….)
bla… bla.. bla… pembicaraan mengenai sebuah acara buka bersama… * get to the point aja bro….*
+trus sekarang ada dimana? *lagi ada id sekitaran DU neh +ma sapa? *ndiri, temen aku pergi dulu sama cewenya +sendirian? kasihan… *ya…., udah biasa dan… bla.. bla… bla… pembicaraan lain hingga *ya udah, ntar dikabar2in lagi aja ya… +ok de… bubye… *yo.. . ‘walah nikung salah’ (standar lagi penutupnya…)
selelsai dari pembicaraan di tlp, aku terdiam. lalu terbersit di benak.. apakah seharusnya orang itu tidak hidup sendiri? apakah kesendirian itu suatu hal yang perlu dikasihani? apakah perlu dia mengkasihani aku yang sendiri?
jika kita seharusnya tidak hidup sendiri, mengapa kita terlahir dan mati dalam kesendirian… sebuah buku, gambaran dari isinya bisa kita baca dari prolog dan epilog. dan garis besarnya dapat kita tangkap. apakah hal ini berlaku dalam hidup? prolog kita adalah alam rahim, dan epilog kita adalah alam kubur.
bila kesendirian perlu dikasihani, maka kasihan semua orang yang selama ini terlahir dan kemudian mati. bayi-bayi dan jenazah-jenazah itu ada dalam kesendirian. mmm.. mungkin ku baru saja mengetahui mengapa kelahiran menjadi hal yang membahagiakan dan kematian menjadi tangis kesedihan. kelahiran membahagiakan karena bayi itu terlepas dari kesendirian, dan kematian menyedihkan karena kembali jenazah itu terkungkung dalam kesendirian. hmmm….. dan saat kita hidup, kita ada dalam kesendirian kita akan dikasihani dengan 2 kemungkinan alasan, karena kita belum mampu terlahir atau kita hidup dalam kematian. tapi, bukankah awal dan akhir kita berada dalam kesendirian, so kesendirian kita dalam hidup seharusnya menjadi sesuatu yang lumrah, yang biasa karena pada dasanya kita memang akan sendiri.
aku pernah tidak sendiri, mereka pun pernah tidak sendiri. dan dia yang pergi memberiku sendiri, kini mengkasihani aku karena aku sendiri sebagai imbas atas pergi yang ia beri. >:I aku tidak mengerti… mengapa harus mengkasihani aku? mengapa tidak mengkasihani diri sendiri yang memberiku sendiri sementara dalam diri sendiri ia merasa sendiri. akankah kasihanmu itu membuatku tidak sendiri. aku tidak mengkasihani mereka yang sendiri. nyatanya aku berusaha memberi diri untuk menemani meski mereka tak mau aku tuk menemani. dan aku tetap berseri meski mereka tak ingin ku temani karena aku tau, kita tetap akan sendiri. mari mengkasihani diri yang kehilangan diri sendiri dalam sendiri. mungkin itu lebih baik.
tak terasa, dalam waktu kurang satu jam, bensin dalam tanki motorku yang penuh sudah berkurang jauh. kini berada di ambang kehabisan. aku pun tak ingat jalan2 yang telah aku lalui, atau apa yang tadi aku hadapi. yang aku sadari, alat komunikasiku berdering. diikuti pertanyaan, ’sudah sampai mana?’
** kalo naek kendaraan jangan ngelamun ya, syukur2 kalo alam bawah sadarnya sudah biasa menjadi pilot cadangan. kalo belum bisa berabe lho…. **